contoh tugas jurnal medikal bedah kateter
TUGAS
MEDICAL BEDAH
Oleh
Indra dwi wahyudi
BEDAH JURNAL
Efektivitas
Pemasangan Kateter Dengan Menggunakan Jelly Yang Dimasukkan Uretra Dan Jelly
Yang Dioleskan Di Kateter Terhadap Respon Nyeri Pasien
Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang ada di Instalasi
Gawat Darurat dan merupakan tidakan kolaborasi serta sering dilaksanakan di
Instalasi Gawat Darurat adalah tindakan pemasangan kateter. Pemasangan kateter
dalam situasi darurat yang membutuhkan kerja sama tim medis yang memiliki skill
dalam pemasangan kateter, jika tim medis perawat dan dokter tidak memiliki
skill yang baik hal tersebut dapat menyebabkan beberapa komplikasi medis dan
situasi yang tidak nyaman bagi pasien.
Tujuan adalah
menganalisis keefektivan dari pemasangan kateter melalui pemberian jelly
(lubrikan) kedalam uretra dan memberikan jelly (lubrikan) pada kateter dalam
upaya penurunan tingkat nyeri pasien pada instalasi gawat darurat. Berdasarkan
hasil penelitian menunjukkan terdapatnya perbedaan yang signifikan terhadap
tingkat nyeri oleh pasien yang telah terpasang kateter menggunakan jelly
kedalam uretra dan melumasi kateter dengan jelly pada (t = 6,32 , p = 0,00)
tingkat nyeri yang tinggi dalami oleh pasien yang dipasang dengan melumasi
kateter menggunakan jelly dari pada memberikan jelly kedalam uretra. Studi
menggunakan metode eksperimen (percobaan) dengan post tes hanaya dalam control
yang telah direncanakan. Jumlah sampel sebanyak 30 responden dan dibagi menjadi
2 group, dengan 15 respoden sebagai group treatment dan 15 responden yang lain
sebagai group control. Sampel telah diambil melalui metode tujuan sampel.
Tingkat nyeri diukur dengan pengkajian skala nyeri visual analog.
Pengkajian
skala nyeri visual analog score (VAS) bertujuan memeriksa intensitas nyeri dan
secara khusus meliputi 10-15 cm garis, setiap ujungnya ditandai dengan level
intensitas nyeri
1) Skala 1
: tidak nyeri
2) Skala 2-4
: nyeri ringan, dimana klien mengeluh nyeri, atau
masih dapat ditolerir karena masih dibawah amabang rangsang.
3) Skal
5-6 : nyeri sedang, dimana klien
mulai merintih dan mengeluh, ada yang sambil menekan pada bagian yang nyeri.
4) Skala 7-9 :
termasuk nyeri berat, klien mungkin mengelu sakit sekali dan klien tidak
mampu melakukan kegiatan biasa.
5) Skala
10 : termasuk nyeri yang sangat,
pada tingkat ini klien tidak dapat lagi mengenal dirinya.
Analisa Jurnal
Hasil penelitian
Tingkat
nyeri pasien yang dipasang kateter denga jelly yang dimasukkan uretra dan
dioleskan di kateter
Tingkat Nyeri
|
Jelly
yang dimasukkan ke uretra
|
Jelly
yang dioleskan di kateter
|
||
n
|
%
|
n
|
%
|
|
Sedang
Berat
Sangat Berat
|
13
2
0
|
86,7
13,3
0,0
|
0
10
5
|
0,0
66,7
33,3
|
Jumlah
|
15
|
100,00
|
15
|
100,00
|
Pada tabel 1, dapat diketahui bahwa tingkat nyeri pasien
yang dipasang kateter dengan jelly yang dimasukkan uretra sebagian besar
menggalami nyeri pada sedang (86,7%) dan pada kategori berat (13,3%). Pada
tabel tingkat nyeri yang dipasang kateter dengan jelly yang dioleskan pada
kateter sebagian besar mengalami nyeri pada tingkat berat (66,7%) dan sisannya
pada kategori sangat berat (33,3%). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa
pasien merasakan nyeri pada tingkat sedang jika dalam pemasangan kateter
dilakukan dengan cara jelly yang dimasukkan uretra. Nyeri merupakan suatu
kondisi yang lebih dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus
tertentu.
Tabel 2
Perbedaan
efektivitas pemasangan kateter dengan menggunakan jelly yang dimasukan ke
uretra dan jelly yang dioleskan di kateter terhadap nyeri
Perlakuan
|
M
|
t
|
P
|
Jelly dioleskan
|
7,26
|
6,32
|
0,00
|
Jelly dimasukkan
|
4,20
|
Pada tabel 2, dapat diketahui bahwa dari hasil uji statistik
menggunakan uji t independent test terhadap efektivitas pemasangan
kateter dengan menggunakan jelly yang dimasukkan ke uretra dan jelly yang
dioleskan di kateter terhadap nyeri pasien, diperoleh nilai t = 6,32 dengan
nilai p = 0,00 (p< α = 0,05). Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan
efektivitas yang bermakna secara statistic antara tingkat nyeri pasien yang
dipasang keteter dengan menggunakan jelly yang dimasukkan keuretra dan jelly
yang dioleskan di kateter.
Cara memasukkan jelly langsung kedalam uretra dapat
mempengaruhi kecepatan pemasangan kateter sehingga mengurangi tingkat iritasi pada dinding uretra
akibat pergesekan dengan kateter bila dibandingkan dengan cara pelumasan dengan
melumuri jelly pada ujung kateter. Iritasi jaringan atau nekrosis dapat
juga diakibatkan oleh pemakaian kateter yang ukurannya tidak sesuai besarnya
orifisium uretra, kurangnya pemakaian jelly, penekanan yang berlebihan,
misalnya memfiksasi terlalu erat dan penggunaan kateter intermiten yang terlalu
sering dapat merusak jaringan kulit. Dampak nyeri sebagai akibat spasme otot
spingter karena kateterisasi akan terjadi perdarahan dan kerusakan uretra yang
dapat menyebabkan striktur
uretra yang
bersifat permanen hal ini akan memperberat penyakit serta memperpanjang hari
perawatan pasien. Bila hal tersebut tidak segera mendapat perhatian, maka
kejadian berbagai komplikasi dengan mekanisme yang belum diketahui
berpeluang sangat besar.
Pemasangan kateter dengan memasukkan
jelly terlebih dahulu sebelum melakukan prosedur pemasangan, dengan mengguakan
sepuit
komentar
Dalam
penelitian ini hanya dijelaskan bahwa sampelnya seluruh pasien rawat inap
tidak disebutkan jenis kelaminnya perempuan atau laki-laki, tidak ditampilkan
tabel umur Cuma penjelasannya saja, tingkat pengetahuannya, tingkat
pendidikan, tingkat kesadarannya, penjelasan alasannya kenapa lebih nyeri
yang diberi jelly di kateter dari pada di uretra, , dalam penelitian ini tidak
di jelaskan pasien dengan penyakit apa, tidak ada penjelasan apakah jelly itu
dicampur dengan obat atau tidak pada pemasangan kateter deangn menggunakan
jelly yang dimasukkan ke uretra dan riwayat pernah dipasang atau tidak.
Di
kutip
http://ejournal.undip.ac.id/index.php/medianers/article/view/4452
Komentar